Bung Tomo
Nama Lengkap :
Sutomo
Asal :
Surabaya
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur, 03 Oktober 1920
Wafat :
Padang Arafah, 7 Oktober 1981
Peran :
Pada tahun 1944 ia menjadi anggota Gerakan
Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia.
Namun semua ini mempersiapkan Bung Tomo untuk menjalankan peranannya yang
sangat penting.
Pada 19 September 1945 sebuah
insiden terjadi di Hotel Yamato, Surabaya. Sekelompok orang Belanda memasang
bendera mereka. Rakyat marah. Seorang Belanda tewas dan bendera
merah-putih-biru itu diturunkan. Bagian biru dirobek, tinggal merah-putih, yang
langsung dikibarkan.
Di Jakarta, pasukan Sekutu datang pada 30
September 1945. Para serdadu Belanda ikut rombongan. Bendera Belanda berkibar
di mana-mana. Saat itu, Bung Tomo masih berstatus wartawan kantor berita
ANTARA. Ia juga kepala bagian penerangan Pemuda Republik Indonesia (PRI),
organisasi terpenting dan terbesar di Surabaya pada saat itu.
Di Jakarta, Bung Karno meminta para pemuda
untuk menahan diri, tak memulai konfrontasi bersenjata. Bung Tomo kembali
ke Surabaya. "Kita (di Surabaya) telah memperoleh kemerdekaan, sementara
di ibukota rakyat Indonesia terpaksa harus hidup dalam ketakutan," katanya
seperti dicatat sejarawan William H. Frederick dari Universitas Ohio, AS.
Pada bulan Oktober dan November 1945, ia
menjadi salah satu Pemimpin yang sangat penting, karena ia berhasil
menggerakkan dan membangkitkan semangat rakyat Surabaya, yang pada waktu itu
Surabaya diserang habis-habisan oleh pasukan Inggris yang mendarat untuk
melucutkan senjata tentara pendudukan Jepang dan membebaskan tawanan
Eropa.
Pada 9 November dikeluarkannya ultimatum yang
ditunjukkan kepada para staf Gubernur Soerjo yang berbunyi, pertama, seluruh
pemimpin rakyat Surabaya harus menyerahkan diri paling lambat pukul 18.00 di
hari itu dengan tangan di atas kepala. Kedua, seluruh senjata harus diserahkan.
Lalu, pembunuh Mallaby menyerahkan diri. Jika kedua hal tersebut diabaikan,
Sekutu bakal mulai menyerang pada pukul 06.00 keesokan harinya. Seperti
ultimatum terdahulu, pamflet berisi ultimatum disebar lewat udara. Jika tidak
dipatuhi, pada 10 November mulai pukul 06.00, Inggris akan mulai menggempur.
Pertempuran di Surabaya, 10 November 1945,
Bung Tomo tampil sebagai orator ulung di depan corong radio, membakar semangat
rakyat untuk berjuang melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda.
Presiden
ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Pare-Pare,
Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari
delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini
Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12
Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.
Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi
Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak
kanak-kanak. Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah
dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya,
ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie,
karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments
Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama
dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.
Karena
kecerdasannya, Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk di ITB
(Institut Teknologi Bandung), Ia tidak sampai selesai disana karena beliau
mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan
kuliahnya di Jerman, karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya
Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia maka ia memilih jurusan Teknik
Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein
Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH)Ketika sampai di Jerman, beliau
sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat
jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Beberapa
tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang
belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor
hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain Musim liburan bukan
liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan
mencari uang untuk membeli buku.
Beliau
mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960
dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar
insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri
kereta api Jerman. Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar
Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean
kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang
kemudian diboyong ke Jerman, hidupnya makin keras, di pagi-pagi sekali Habibie
terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk
menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk
kuliahnya. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan
penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari
Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Di Indonesia,
Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10
perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan
disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto
menjadi Presiden Republik Indonesia ke 3. Soeharto menyerahkan jabatan presiden
itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie
dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato
Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara
biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.
Pada
tanggal 22 Mei 2010, Hasri Ainun Habibie, istri BJ Habibie, meninggal di Rumah
Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman. Ia meninggal
pada hari Sabtu pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB. Ini menjadi duka
yang amat mendalam bagi Mantan Presiden Habibie dan Rakyat Indonesia yang
merasa kehilangan. Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata
untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih
dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai
batas.
Prestasi
: Pada tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut
Teknologi Bandung. dari tempat yang sama tahun 1965. Kejeniusan dan prestasi
inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional di antaranya,
Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar)
Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish
Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l'Air et de
l'Espace (Prancis) dan The US
Academy
of Engineering (Amerika Serikat). Sementara itu penghargaan bergengsi yang
pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman
yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat
penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja
Manggala Bhakti Kencana.
Biografi H.M. Soeharto
Jend.
Besar TNI Purn. Haji Muhammad Soeharto adalah Presiden kedua Republik
Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya
bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam
pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah. Soeharto masuk sekolah
tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Sampai akhirnya terpilih
menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun
1941. Dia resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947,
Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran.
Pernikahan
Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo.
Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam
putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang
Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang
Adiningsih.
Soeharto
telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di
kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian
komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon
berpangkat Letnan Kolonel. Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya
merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau
juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah
menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat).
Tanggal
1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan
Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai
Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto
menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya,
mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin
besar revolusi Bung Karno.
Karena
situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa
MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan
selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa
warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.
Namun,
akhirnya dia harus meletakkan jabatan secara tragis, bukan semata-mata karena
desakan demonstrasi mahasiswa pada 1998, melainkan lebih akibat pengkhianatan
para pembantu dekatnya yang sebelumnya ABS dan Ambisius tanpa fatsoen politik.
Ayah lima anak ini pun menunjukkan ketabahan dan keteguhannya. Dia akhirnya
sempat diadili dengan tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana yayasan-yayasan yang
didirikannya. Soeharto menyatakan bersedia mempertanggungjawabkan dana yayasan
itu. Tapi, ia pun jatuh sakit yang menyebabkan proses peradilannya dihentikan.
Tapi tidak semua mantan menterinya tega mengkhianati, tidak mempunyai moral
politik. Ada beberapa yang justru makin dekat dengannya secara pribadi setelah
bukan lagi berkuasa.
Selama
masa jabatannya, dia menggerakkan pembangunan dengan strategi Trilogi
Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan). Bahkan sempat mendapat
penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan pada 1985.
Maka, dia mendapat penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Nasional.
Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu,
27 Januari 2008. Dia meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24
hari, sejak 4 sampai 27 Januari 2008 di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP),
Jakarta. Berita wafatnya Soeharto pertama kali diinformasikan Kapolsek
Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta. Kemudian secara resmi Tim
Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat
pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi
organ. Riset dan analisis oleh Vizcardine Audinovic
PENDIDIKAN
- SD Pedes Yogyakarta
- SMP Muhammadiyah di Yogyakarta
- Sekolah militer di Gombong
KARIR
- Anggota TNI
- Komandan Brigade Garuda Mataram
- Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel
- Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD)
- Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat
- Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
- Panglima Kopkamtib
- Mayor Jendral
- 1966 - 1998 Presiden Kedua RI
PENGHARGAAN
- Bapak Pembangunan Nasional
- Bintang Mahakarya Gotong Royong dari Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong
Biografi
Jenderal Soedirman
Jenderal
Soedirman
adalah panglima TNI yang pertama, tokoh agama, pendidik, tokoh Muhammadiyah
sekaligus pelopor perang gerilya di Indonesia. Jenderal Soedirman juga salah
satu jenderal bintang lima di Indonesia selain Jenderal AH Nasution, dan
Jenderal Soeharto. Beliau lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa
Tengah, tanggal 24 Januari 1916 dan meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29
Januari 1950 pada umur 34 tahun karena penyakit tuberkulosis dan dimakamkan di
Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.Jenderal Soedirman
lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji,
adalah seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya, Siyem,
adalan keturunan Wedana Rembang. Soedirman sejak umur 8 bulan diangkat sebagai
anak oleh R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten Wedana Rembang yang masih
merupakan saudara dari Siyem. Jenderal Soedirman memperoleh pendidikan formal
dari Sekolah Taman Siswa. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru)
Muhammadiyah, Surakarta tapi tidak sampai tamat. Soedirman saat itu juga giat
di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi guru di sekolah HIS
Muhammadiyah di Cilacap.
Pengetahuan
militernya diperoleh dari pasukan Jepang melalui pendidikan. Setelah
menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi Komandan Batalyon di Kroya, Jawa
Tengah. Kemudian ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk,
dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia
(Panglima TKR). Soedirman dikenal memiliki pribadi yang teguh pada prinsip dan
keyakinan, Ia selalu mengutamakan kepentingan orang banyak banyak dan bangsanya
di atas kepentingan pribadinya, bahkan kepentingan kesehatannya sendiri.
Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal
pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen
dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Pada masa pendudukan
Jepang ini, Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan
anggota Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Dalam saat ini ia
mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.
Sesudah
Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima
Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12
November 1945, Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan
Perang RI.
Perang
besar pertama yang dipimpin Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan
pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai
Desember 1945. Pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman
terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12
Desember 1945, Soedirman melancarkan serangan serentak terhadap semua kedudukan
Inggris di Ambarawa. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari
tersebut diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut
berakhir tanggal 16 Desember 1945. Setelah kemenangan Soedirman dalam Palagan
Ambarawa, pada tanggal 18 Desember 1945 dia dilantik sebagai Jenderal oleh Presiden
Soekarno. Soedirman memperoleh pangkat Jenderal tersebut tidak melalui
sistem Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya, tapi karena prestasinya.
Jendral Soedirman tetap terjun ke medan perang saat terjadi agresi militer Belanda II di Ibukota Yogyakarta. Saat itu Ibukota RI dipindahkan ke Yogya karena Jakarta sudah dikuasai Belanda.Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda tanggal 19 Desember 1948 tersebut. Dalam perlawanan tersebut, Kondisi kesehatan Jenderal Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Yogyakarta pun kemudian dikuasai Belanda, walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia setelah Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting tersebut, Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang gerilya. Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Soedirman pulang dari gerilya tersebut karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angkatan Perang secara langsung. Setelah itu Soedirman hanya menjadi tokoh perencana di balik layar dalam kampanye gerilya melawan Belanda. Setelah Belanda menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag, Jenderal Soedirman kembali ke Jakarta bersama Presiden Soekarno, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pada tangal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada tahun 1997 dia mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI sampai sekarang.
Jendral Soedirman tetap terjun ke medan perang saat terjadi agresi militer Belanda II di Ibukota Yogyakarta. Saat itu Ibukota RI dipindahkan ke Yogya karena Jakarta sudah dikuasai Belanda.Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda tanggal 19 Desember 1948 tersebut. Dalam perlawanan tersebut, Kondisi kesehatan Jenderal Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Yogyakarta pun kemudian dikuasai Belanda, walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia setelah Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting tersebut, Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang gerilya. Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Soedirman pulang dari gerilya tersebut karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angkatan Perang secara langsung. Setelah itu Soedirman hanya menjadi tokoh perencana di balik layar dalam kampanye gerilya melawan Belanda. Setelah Belanda menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag, Jenderal Soedirman kembali ke Jakarta bersama Presiden Soekarno, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pada tangal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada tahun 1997 dia mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI sampai sekarang.
Nama Lengkap :
Ir. Soekarno
Nama Panggilan : Bung Karno
Nama Kecil : Kusno
TTL : Blitar, 6 Juni 1901
Nama Panggilan : Bung Karno
Nama Kecil : Kusno
TTL : Blitar, 6 Juni 1901
Meninggal :
Jakarta, 21 Juni 1970
Peran dan Kisah Keteladanan :
Peran dan Kisah Keteladanan :
Ir.Soekarno yang
biasa dengan panggilan akrab Bung Karno lahir di Blitar, Jawa Timur pada
tanggal 6 Juni 1901. Presiden pertama Indonesia ini lahir dari pasangan Raden
Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai. Beliau adalah seorang orator handal yang telah
diakui dan disegani dunia.
Tokoh
proklamator yang sangat anti kolonialisme dan imperialisme ini sejak
kecil hanya beberapa tahun tinggal bersama orang tuannya di Blitar karena saat
sekolah dasar beliau tinggal di Surabaya dan indekos di rumah H Oemar Said
Tjokroaminoto (pendiri Sarekat Islam). Kemudian melanjutkan sekolah di HBS
(Hoogre Burger School) dan lulus pada tahun 1920. Setelah lulus beliau melanjutkan
ke THS (Technische Hooge School) yang saat ini bernama ITB (Institut Teknik
Bandung) dan lulus pada 25 Mei 1926 dengan gelar "Ir".
Beliau
mulai merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional
Indonesia) pada 4 Juli 1927 dengan tujuan kemerdekaan Indonesia. Menyadari hal
itu Belanda pun memasukkannya ke penjara Sukamiskin-Bandung pada 29 Desember
1929. Setelah dipenjara selama delapan bulan beliau baru disidangkan. Dalam
sidang beliau membuat pembelaan yang berjudul "Indonesia Menggugat"
dengan menunjukan pelanggaran oleh Belanda. Namun Belanda malah membubarkan PNI
pada Juli 1930.
Setelah
bebas pada tahun1931 Ir Soekarno bergabung dengan PARTINDO dan sekaligus
memimpinnya. Akibatnya beliau kembali di tangkap Belanda dan dibuang ke Ende-Flores
pada tahun 1933 dan empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah
melalui perjuangan yang cukup panjang bersama seluruh rakyat Indonesia, Bung
Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang
BPUPKI pada 1 Juni 1945 Ir Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara
yang di sebutnya Pancasila. Ir Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai
presiden Indonesia dalam sidang PPKI pada 18 Agustus1945.
Bung
Karno yang menganut ideologi pembangunan berupaya mempersatukan nusantara
bahkan berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika dan Amerika latin
dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang
menjadi gerakan Non Blok. Berkat sepak terjangnya, Indonesia yang baru saja
merdeka sudah menjadi salah satu "macan asia", disegani negara-negara
asing dan dicintai/dibanggakan bangsa sendiri.
Pemberontakan
G30S/PKI melahirkan krisis politik hebat, namun Bung Karno tidak mau
membubarkan PKI tetapi hanya mengeluarkan surat perintah 11 Maret 1966 kepada
Soeharto untuk mengendalikan situasi, yang dikenal dengan
"supersemar". Surat perintah ini oleh Soeharto digunakan untuk
membubarkan PKI. MPR mengokohkan supersemar dan menolak pertanggung jawaban
Soekarno. MPR pun mengangkat Soeharto sebagai presiden karena telah dianggap
berjasa dalam mengendalikan keamanan.
Kesehatannya
terus memburuk yang pada hari minggu 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD.
Ia dimakamkan di Blitar-Jawa timur di dekat makam ibundanya Ida Ayu Nyoman Rai.
Pemerintah menganugerahkan gelar "Pahlawan Revolusi" kepadanya.
Dr. Moh. Hatta
Biodata
Nama : Dr. Mohammad Hatta (Bung
Hatta)
Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980
Istri : (Alm.) Rahmi Rachim
Anak :
* Meutia Farida
* Gemala
* Halida Nuriah
Gelar Pahlawan : Pahlawan Proklamator RI tahun 1986
Pendidikan :
* Europese Largere School (ELS) di Bukittinggi (1916)
* Meer Uirgebreid Lagere School (MULO) di Padang (1919)
* Handel Middlebare School (Sekolah Menengah Dagang), Jakarta (1921)
* Gelar Drs dari Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932)
Bung Hatta dilahirkan di kota Bukittinggi, di tengah dataran tinggi Agam, Sumatera Barat tangal 12 Agustus 1902 dari pasangan keluarga H. Mohammad Djamil (Ayah) dan Siti Saleha (Ibu). Sewaktu kecilnya, Mohammad Hatta sering dipanggil Mohammad Athar, dan ketika masa perjuangan kemerdekaan, beliau lebih populer dengan panggilan Bung Hatta, yang pada saat itu bermakna “saudara seperjuangan”.
Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980
Istri : (Alm.) Rahmi Rachim
Anak :
* Meutia Farida
* Gemala
* Halida Nuriah
Gelar Pahlawan : Pahlawan Proklamator RI tahun 1986
Pendidikan :
* Europese Largere School (ELS) di Bukittinggi (1916)
* Meer Uirgebreid Lagere School (MULO) di Padang (1919)
* Handel Middlebare School (Sekolah Menengah Dagang), Jakarta (1921)
* Gelar Drs dari Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932)
Bung Hatta dilahirkan di kota Bukittinggi, di tengah dataran tinggi Agam, Sumatera Barat tangal 12 Agustus 1902 dari pasangan keluarga H. Mohammad Djamil (Ayah) dan Siti Saleha (Ibu). Sewaktu kecilnya, Mohammad Hatta sering dipanggil Mohammad Athar, dan ketika masa perjuangan kemerdekaan, beliau lebih populer dengan panggilan Bung Hatta, yang pada saat itu bermakna “saudara seperjuangan”.
Beliau menikah di usia 42 tahun dengan Rahmi
yang kemudian dianugerahi tiga orang puteri yaitu: Meutia, Gemala, dan Halida.
Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di tengah-tengah
rakyat, di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Pendidikan dasar (SR) dan sekolah menengah
(MULO) diselesaikan di Padang, kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah
Tinggi Dagang Prins Hendrik School dan tamat tahun 1921. Walaupun beliau
ditawari pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi, tapi ditolaknya karena beliau
ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ke negeri Belanda di Rotterdamse
Handelschogenschool. Disinilah Bung Hatta mulai berkecimpung dalam organisasi
pemuda yang saat itu diketuai oleh Dr. Soetomo (Bung Tomo).
Ketika kembali ke Indonesia, beliau aktif
dalam dunia pers sebagai anggota Dewan Redaksi “Hindia Poetra” dan majalah
Daulat Rakyat. Di masa-masa inilah Bung Hatta berkenalan dengan Bung Karno (Ir.
Soekarno). Perjuangan Bung Hatta tidak mungkin kita lupakan begitu saja, karena
memiliki nilai sejarah yang sangat berarti bagi negara dan bangsa Indonesia.
Beliau adalah figur yang sedikit bicara tetapi lebih banyak berbuat. Oleh karena itu, Bung Hatta tidak hanya disegani oleh rakyat Indonesia, tetapi juga oleh bangsa lain, terutama dalam era perjuangan kemerdekaan. Bahkan beliau lebih disegani dan dikagumi karena kemampuannya menggalang masyakat internasional dengan menguasai bahasa asing, seperti bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Bung Hatta selain Wakil Presiden RI pertama, beliau pernah menyamar sebagai co-pilot ke India untuk bertemu dengan Gandhi dan Jawaharlal Nehru. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, Bung Hatta mengalami penangkapan dan pembuangan oleh pemerintah Belanda, antara lain ke Tanah Merah, Digul, ke Banda Neira, kemudian ke Sukabumi, sebelum Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942.
Beliau adalah figur yang sedikit bicara tetapi lebih banyak berbuat. Oleh karena itu, Bung Hatta tidak hanya disegani oleh rakyat Indonesia, tetapi juga oleh bangsa lain, terutama dalam era perjuangan kemerdekaan. Bahkan beliau lebih disegani dan dikagumi karena kemampuannya menggalang masyakat internasional dengan menguasai bahasa asing, seperti bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Bung Hatta selain Wakil Presiden RI pertama, beliau pernah menyamar sebagai co-pilot ke India untuk bertemu dengan Gandhi dan Jawaharlal Nehru. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, Bung Hatta mengalami penangkapan dan pembuangan oleh pemerintah Belanda, antara lain ke Tanah Merah, Digul, ke Banda Neira, kemudian ke Sukabumi, sebelum Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942.
Pada dasarnya, penangkapan dan pembuangan
Bung Hatta disebabkan oleh penolakannya atas bujukan Belanda untuk bekerja
sama. Bung Hatta dikenal sebagai seorang yang sangat memegang teguh
kedisiplinan, kesederhanaan, keimanan, dan ketakwaan yang tinggi kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa, rasa kasih dan tidak kasar, bersih serta jujur, dan selalu
berorientasi pada rakyat kecil dan lemah.
Beliau sangat suka membaca, rajin membeli
buku, punya jadwal khusus untuk membaca dan menulis di perpustakaan pribadi sehingga
pada akhirnya beliau meninggalkan puluhan ribu buku milik pribadi dan berbagai
tulisan yang tersebar di dalam maupun di luar negeri.
Biografi RA Kartini
Raden Adjeng
Kartini atau
sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah
seorang tokoh dari suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal
sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia.
Raden
Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa,
putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari
istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri
dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di
Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga
Hamengkubuwana VI.
Ayah
Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu
itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A.
Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden
Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan
itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan
ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini
adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara
sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario
Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini,
Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.
Sampai
usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere
School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah
usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena
Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan
menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah
satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran,
dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa.
Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa
perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini
banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter
Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko
buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu
pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche
Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di
De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja
dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini
menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak
hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum.
Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan
persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku
yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan
Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua
kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian
karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang
saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman
anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata).
Semuanya berbahasa Belanda.
Oleh
orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario
Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini
menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan
Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah
timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan
yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Anak
pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13
September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal
pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Penghargaan
: Pahlawan Kemerdekaan yang ditetapkan pada
tanggal 2 Mei 1964, Tanggal 21 April merupakan tanggal untuk memperingati
hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini, Nama RA Kartini mendapat penghargaan dengan menjadikan
namanya sebagai nama jalan di beberapa kota di Belanda. Sebut saja, di Utrecht,
Venlo, Amsterdam, Haarlem.
Buku Karya RA. Kartini : Habis Gelap
Terbitlah Terang; Surat-Surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya;
Letters from Kartini, An Indonesian Geminist 1900-1904; Panggil Aku Kartini
Saja; Kartini
Surat-Surat kepada Ny. RM Abendanon-Mandri dan suaminya; Aku Mau…. Feminisme dan
Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
Biografi Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat 1772 - wafat
dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864),
adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan
Belanda, peperangan itu dikenal dengan nama Perang Padri di tahun 1803-1837.
Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK
Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.
Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab, yang lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat pada tahun 1772. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, ia memperoleh beberapa gelar, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Tak dapat dimungkiri, Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.
Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab, yang lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat pada tahun 1772. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, ia memperoleh beberapa gelar, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Tak dapat dimungkiri, Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.
Pada 21
Februari 1821, kaum Adat resmi menyerahkan wilayah darek (pedalaman
Minangkabau) kepada Belanda dalam perjanjian yang diteken di Padang, sebagai
kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Padri. Perjanjian
itu dihadiri juga oleh sisa keluarga Dinasti Kerajaan Pagaruyung di bawah
pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan
Padri. Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan
Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal
April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Dalam hal ini Kompeni
melibatkan diri dalam perang karena "diundang" oleh kaum Adat. Perlawanan yang dilakukan oleh
pasukan paderi cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya.
Oleh sebab itu Belanda melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch mengajak
pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk
berdamai dengan maklumat "Perjanjian Masang" pada tahun 1824. Hal ini
dimaklumi karena disaat bersamaan Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi
peperangan lain di Eropah dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Tetapi kemudian
perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Nagari Pandai
Sikek.
Namun,
sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Paderi
melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda, Pihak-pihak yang
semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Diujung penyesalan muncul
kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat
Minangkabau itu sendiri [3]. Bersatunya kaum Adat dan kaum Paderi ini dimulai
dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek
Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah
(Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an)).
Penyerangan
benteng kaum Paderi di Bonjol oleh Belanda dipimpin oleh jenderal dan para
perwira Belanda, tetapi dengan tentara yang sebagian besar adalah bangsa
pribumi yang terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan
Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda, terdapat Mayor Jendral
Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der
Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz. dan seterusnya, tetapi juga terda[at
nama-nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Inlandsche
Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro
Brotto, dan Merto Poero.
Terdapat
148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara
pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenep,
Madura). Serangan terhadap benteng Bonjol dimulai orang-orang Bugis yang berada
di bagian depan dalam penyerangan pertahanan Padri. Dari Batavia didatangkan
terus tambahan kekuatan tentara Belanda, dimana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba
dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan
Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini
menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini
negara Ghana dan Mali. Mereka juga disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara
Belanda.
Dalam
bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding.
Tiba di tempat itu langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat.
Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado. Di
tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku
Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.
Biografi Biodata Cut Nyak Dien
Cut Nyak Din adalah pahlawan nasional, sang wanita
baja dari tanah serambi Mekkah, tokoh pejuang kemerdekaan yang berkiprah
sebelum masa kebangkitan nasional. Namanya begitu populer sehingga sutradara
Eros Djaroet pernah mengangkat kisah kehidupan (biografinya) dalam layar lebar.
Cut Nyak Din lahir di Lampadang Provinsi Aceh tahun 1850 dan wafat dalam
pengasingan di Sumedang Jawa Barat 6 November 1908. Cut Nyak Din menikah pada
usia 12 tahun dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga. Namun pada suatu pertempuran di
Gletarum,Juni 1878, sang suami Teuku Ibrahim gugur. Kemudian Cut Nyak Dien
bersumpah hanya akan Menerima pinangan dari laki-laki yang bersedia membantu
Untuk menuntut balas kematian Teuku Ibrahim.
Cut Nyak Din akhirnya menikah kembali dengan
Teuku Umar tahun 1880 juga seorang pejuang Aceh yang sangat disegani Belanda.
Sejak menikah dengan Teuku Umar, tekad perjuangan Cut Nyak Din makin besar. Ia
berjuang bersama suaminya sejak tahun 1893 hingga Maret 1896. Dalam
perjuangannya Teuku Umar berpura-pura bekerjasama dengan Belanda sebagai taktik
untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang lainnya. Sementara itu Cut
Nyak Din berjuang melawan Belanda di kampung halaman Teuku Umar. Teuku Umar
akhirnya kembali lagi bergabung dengan para pejuang Aceh lainnya setelah
berhasil mendapatkan peralatan perang dan taktiknya diketahui Belanda. Tanggal
11 Februari 1899 Teuku Umar gugur dalam pertempuran sengit di Meulaboh, namun
Cut Nyak Din teus melawan Belanda dengan cara bergerilya. Ia tidak pernah mau
berdamai dengan Belanda yang disebutnya ”kafir-kafir”. Perjuangannya yang berat
dengan bergerilya keluar masuk hutan membuat kondisi pasukan dan kesehatannya
mengkhawatikan. Cut Nyak Dien menderita sakit encok dan matanya menjadi rabun.
Merasa kasihan dengan kondisi pimpinannya, para pengawal Cut Nyak Dien akhirnya
membuat kesepakatan dengan Belanda bahwa Cut Nyak Dien boleh ditangkap dengan
catatan diperlakukan secara terhormat danbukan sebagai penjahat perang. Setelah
menjadi tawanan, Cut Nyak Dien masih sering didatangi para simpatisan dan
orang-orang syang setia kepadanya. Belanda menjadi curiga sehingga Cut Nyak
Dien diasingkan di Sumedang Jawa Barat tanggal 11 Desemeber 1905.
Cut Nyak dien akhirnya wafat di pengasingan.
Ia tetap dikenang rakyat Indonesia sebagai pejuang yang berhati baja sekaligus
ibu dari rakyat Aceh. Pemerintah RI menganugerahi gelar pahlawan kemerdekaan
nasional berdasarkan SK Presiden RI No 106/1964.
Biografi Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin lahir di Makassar,
Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan,
12 Juni 1670 pada umur 39 tahun, adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional
Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang
Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar
Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan
Sultan Hasanuddin saja. dia diangkat menjadi Sultan ke 6 Kerajaan Gowa dalam usia
24 tahun (tahun 1655).
Sementara itu belanda memberinya gelar de
Haav van de Oesten alias Ayam Jantan dari Timur karena kegigihannya dan
keberaniannya dalam melawan Kolonial belanda. Sultan Hasanuddin lahir di
Makassar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15.
Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili
Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan
kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.
Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni
berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan
Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha
menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk
melawan Kompeni.
Peperangan
antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai pada tahun 1660. Saat
itu Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari
Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas
tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri dan perang tersebut berakhir dengan
perdamaian. Akan tetapi, perjanjian dama tersebut tidak berlangsung lama karena
Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua
kapal Belanda , yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar.
Lalu Belanda mengirimkan armada perangnya
yang besar yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Aru palaka, penguasa Kerajaan
Bone juga ikut menyerang Kerajaan Gowa. Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan
akhirnya sepakat untuk menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18
November 1667. Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan
serangan terhadap Belanda. Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng
Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai
Belanda. Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama
dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta
kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Untuk Menghormati jasa-jasanya,
Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya dengan SK Presiden
Ri No 087/TK/1973.
Kapitan Pattimura yang bernama asli Thomas
Matulessy, ini lahir di Negeri Haria, Saparua, Maluku tahun 1783. Perlawanannya
terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di
Saparua selama tiga bulan setelah sebelumnya melumpuhkan semua tentara Belanda
di benteng tersebut. Namun beliau akhirnya tertangkap. Pengadilan kolonial
Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya. Eksekusi yang dilakukan pada
tanggal 16 Desember 1817 akhirnya merenggut jiwanya.
Perlawanan sejati
ditunjukkan oleh pahlawan ini dengan keteguhannya yang tidak mau
kompromi dengan Belanda. Beberapa kali bujukan pemerintah Belanda agar beliau
bersedia bekerjasama sebagai syarat untuk melepaskannya dari hukuman gantung
tidak pernah menggodanya. Beliau memilih gugur di tiang gantung sebagai Putra
Kesuma Bangsa daripada hidup bebas sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan
disesali rahim ibu yang melahirkannya.
Dalam sejarah pendudukan
bangsa-bangsa eropa di Nusantara, banyak wilayah Indonesia yang pernah dikuasai
oleh dua negara kolonial secara bergantian. Terkadang perpindahtanganan
penguasaan dari satu negara ke negara lainnya itu malah kadang secara resmi
dilakukan, tanpa perebutan. Demikianlah wilayah Maluku, daerah ini pernah dikuasai oleh bangsa
Belanda kemudian berganti dikuasai oleh bangsa Inggris dan kembali lagi oleh
Belanda.
Thomas Matulessy sendiri
pernah mengalami pergantian penguasaan itu. Pada tahun 1798, wilayah Maluku yang sebelumnya dikuasai
oleh Belanda berganti dikuasai oleh pasukan Inggris. Ketika pemerintahan
Inggris berlangsung, Thomas Matulessy sempat masuk dinas militer Inggris dan
terakhir berpangkat Sersan.
Namun setelah 18 tahun
pemerintahan Inggris di Maluku, tepatnya pada tahun 1816,
Belanda kembali lagi berkuasa. Begitu pemerintahan Belanda kembali berkuasa,
rakyat Maluku langsung mengalami penderitaan. Berbagai bentuk tekanan sering
terjadi, seperti bekerja rodi, pemaksaan penyerahan hasil pertanian, dan lain
sebagainya. Tidak tahan menerima tekanan-tekanan tersebut, akhirnya rakyat pun
sepakat untuk mengadakan perlawanan untuk membebaskan diri. Perlawanan yang
awalnya terjadi di Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya
diseluruh Maluku.
Di Saparua, Thomas
Matulessy dipilih oleh rakyat untuk memimpin perlawanan. Untuk itu, ia pun
dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Pada tanggal 16 mei 1817, suatu
pertempuran yang luar biasa terjadi. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan
Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Tentara Belanda
yang ada dalam benteng itu semuanya tewas, termasuk Residen Van den Berg.
Pasukan Belanda yang
dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu juga dihancurkan pasukan
Kapitan Pattimura. Alhasil, selama tiga bulan benteng tersebut berhasil
dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Namun, Belanda tidak mau menyerahkan begitu
saja benteng itu. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran dengan
mengerahkan pasukan yang lebih banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih
modern. Pasukan Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur.
Di sebuah rumah di Siri
Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa
anggota pasukannya, dia dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar
bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya.
Akhirnya dia diadili di
Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung pun dijatuhkan kepadanya.
Walaupun begitu, Belanda masih berharap Pattimura masih mau berobah sikap
dengan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Satu hari sebelum eksekusi hukuman
gantung dilaksanakan, Pattimura masih terus dibujuk. Tapi Pattimura menunjukkan
kesejatian perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. Di depan benteng
Victoria, Ambon pada tanggal 16 Desember 1817, eksekusi pun dilakukan.
Kapitan Pattimura gugur
sebagai pahlawan Nasional. Dari
perjuangannya dia meninggalkan pesan tersirat kepada pewaris bangsa ini agar
sekali-kali jangan pernah menjual kehormatan diri, keluarga, terutama bangsa
dan negara ini.
Dewi Sartika (lahir di
Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada
umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui
sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Ayahnya, Raden
Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah dihukum
buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di
sana. Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda , Nyi Raden
Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya
bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula.
Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat
oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka.
Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan
kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten
Residen bangsa Belanda.
Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan
Seko lah Dasar di Cicalengka, sejak kecil memang sudah menunjukkan minatnya di
bidang pendidikan. Dikatakan demikian karena sejak anak-anak ia sudah senang
memerankan perilaku seorang guru. Sebagai contoh, sebagaimana layaknya
anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi kecil selalu bermain
sekolah-sekolahan dengan teman-teman anak perempuan sebayanya, ketika itu ia
sangat senang berperan sebagai guru. Waktu itu Dewi Sartika baru berumur
sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis
dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak
pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi
anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang
anak perempuan.
Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya. Salah satu yang menambah semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dari Raden Kanduruan Agah Suriawinata, suaminya, yang telah banyak membantunya mewujudkan perjuangannya, baik tenaga maupun pemikiran.
Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya. Salah satu yang menambah semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dari Raden Kanduruan Agah Suriawinata, suaminya, yang telah banyak membantunya mewujudkan perjuangannya, baik tenaga maupun pemikiran.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa
wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh
perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi
Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota
kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia
ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri
(Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum
memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke
Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.
Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki
Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah
beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Bulan September 1929, Dewi Sartika
mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian
berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas jasanya dalam bidang
ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden
Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang
sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah
Latihan Guru. Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan
dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa
Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks
Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.
Jangan tanya apa yang telah diberikan negara
kepadamu, tapi apa yang telah kamu berikan pada negaramu. Kata bijak tersebut
sangat tepat menjadi panduan semua bangsa yang hendak menobatkan seseorang
sebagai penerima gelar kehormatan ‘pahlawan’ di negaranya.
KI HAJAR DEWANTARA
Ki Hajar Dewantara adalah salah satu tokoh
pendidikan nasional yang lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Terlahir dari
keluarga bangsawan Yogyakarta, ia mempunyai nama asli Raden Mas Suwardi
Suryaningrat lalu berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara seperti yang kita
kenal saat ini pada saat usianya 33 tahun.
Sebagai seorang yang lahir dari keluarga
bangsawan, Ki Hajar Dewantara termasuk beruntung karena bisa mengenyam
pendidikan pada masa itu. Ia menamatkan sekolah dasar di ELS (Europeesche
Lagere School) dan sempat melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran
STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) meskipun tidak sampai
tamat lantaran sakit.
Suwardi muda bekerja sebagai penulis dan wartawan di berbagai surat kabar seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Sebagai seorang penulis, ia dikenal karena tulisannya yang peka terhadap masalah-masalah sosial, terutama tentang masalah kolonialisme Belanda di tanah air.
Suwardi muda bekerja sebagai penulis dan wartawan di berbagai surat kabar seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Sebagai seorang penulis, ia dikenal karena tulisannya yang peka terhadap masalah-masalah sosial, terutama tentang masalah kolonialisme Belanda di tanah air.
Pada tahun 1913, pemerintah kolonial Hindia
Belanda berniat mengumpulkan uang sumbangan dari penduduk pribumi dalam rangka
merayakan hari kemerdekaan Belanda dari Perancis. Hal tersebut langsung
menimbulkan banyak kritikan pedas dari para kaum nasionalis, termasuk Suwardi.
Ia lalu membuat tulisan berjudul "Als ik een Nederlander was"
(Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar De Expres
pimpinan Douwes Dekker.
Akibat dari tulisannya ini, Suwardi yang saat
itu berusia 24 tahun ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Keputusan
sepihak pemerintah kolonial ini langsung mendapat protes dari dua sahabat
Suwardi yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Akhirnya, Suwardi dan
kedua rekannya yang kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai itu diasingkan ke
Negeri Belanda.
Sepulang dari pengasingan pada bulan
September 1919, Suwardi yang saat itu berusia 33 tahun memilih untuk
menghilangkan gelar kebangsawanan dari namanya dan berganti nama menjadi Ki
Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara kemudian bergabung dengan sekolah untuk
anak-anak pribumi yang dibina oleh saudaranya. Berbekal pengalaman mengajar
tersebut, Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan Perguruan Taman Siswa di
Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922.
Prinsip-prinsip ajaran Ki Hajar Dewantara yang menjadi pedoman di Taman Siswa antara lain:
Prinsip-prinsip ajaran Ki Hajar Dewantara yang menjadi pedoman di Taman Siswa antara lain:
1. Ing ngarsa sung tuladha (yang di depan
memberikan teladan).
2. Ing madya mangun karsa (di tengah
membangun semangat).
3. Tut wuri Handayani (dari belakang memberi
dukungan).
Setelah zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara
sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan
Indonesia yang pertama. Pada tahun 1957, beliau mendapatkan gelar Doctor
Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada. Sekitar dua tahun setelah menerima
gelar tersebut, Ki Hajar Dewantara meninggal dan di makamkan di kota
kelahirannya Yogyakarta pada tanggal 28 April 1959.
Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai
pahlawan nasional pada tanggal 28 November 1959 melalui surat keputusan
Presiden RI No.305 Tahun 1959. Untuk menghormati jasa-jasa beliau sebagai bapak
pendidikan nasional, tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara yaitu 2 Mei
diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
KI HAJAR DEWANTARA
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat,
sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD = Ki Hajar Dewantara, beberapa
bahasa Jawa untuk menulis suara Ki Hajar Dewantoro, dilahirkan di Yogyakarta, 2
Mei 1889 – wafat di Yogyakarta, 26 April 1959 di usia 69, selanjutnya
disebut sebagai “Soewardi” atau “KHD” adalah aktivis gerakan kemerdekaan
Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi
Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.
Beliau adalah pendiri Perguruan
Taman Siswa. Beliau dikukuhkan sebagai pahlawan nasional untuk-2 oleh
Presiden, Soekarno, pada 28 November 1959 (Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).
Soewardi berasal dari lingkungan Kadipaten
Pakualaman keluarga, anak GPH Soerjaningrat, dan cucu dari Pakualam III.
Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di ELS “Sekolah Dasar Eropa /
Belanda”. Kemudian telah terus STOVIA Sekolah Kedokteran Bumiputera, tapi tidak
sampai akhir karena sakit.
Kemudian ia bekerja sebagai penulis
dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De
Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada saat
itu, ia diklasifikasikan sebagai penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif
dan tajam semangat anti-kolonial.
kolom KHD yang paling terkenal adalah
“Jika aku A Belanda” judul asli: “Als ik een Nederlander adalah”, yang
diterbitkan dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Pejabat
Belanda menyangsikan tulisan ini awalnya dibuat oleh Soewardi sendiri karena
gaya bahasa yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum. Bahkan jika benar ia
menulis, mereka menganggap peran DD di menghasut Soewardi untuk menulis dengan
gaya seperti itu.
Sebagai hasil dari tulisan ini ia
ditangkap dengan persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke
Pulau Bangka atas permintaan sendiri. Namun demikian kedua orang, DD dan Tjipto
Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda
1913. Ketiga karakter yang dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu
berusia 24 tahun.
Dalam pengasingan di Belanda, aktif
dalam organisasi mahasiswa Soewardi dari Indonesia, Indische Vereeniging
(Perhimpunan Hindia). Di sinilah ia kemudian merintis cita-cita memajukan
pribumi untuk belajar ilmu pendidikan untuk memperoleh Europeesche Sertifikat,
sebuah ijazah pendidikan bergengsi yang kemudian menjadi dasar dalam membangun
lembaga pendidikan yang didirikan. Dalam penelitian ini Soewardi tertarik
dengan ide-ide dari sejumlah pendidikan Barat terkemuka, seperti Froebel dan
Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, keluarga Tagore.
Pengaruh yang mendasari ini dalam mengembangkan sistem pendidikan mereka
sendiri.
Soewardi kembali ke Indonesia pada
bulan September 1919. Pengalaman mengajar kemudian digunakan untuk
mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada 3 Juli 1922:
Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Tamansiswa National University.
Saat Beliau mencapai usia 40 tahun
menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar
Dewantara. Dia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Ini
berarti bahwa dia bisa bebas dekat dengan rakyat, baik fisik dan mental.
Semboyan dalam sistem pendidikan yang
menggunakan sekarang sangat terkenal di kalangan pendidikan di Indonesia.
Secara keseluruhan, slogan membacanya dalam bahasa Jawa yang dinyanyikan Tulodo
ngarso ing, ing Madyo Mangun Karso, tut wuri handayani. “Di depan memberi
contoh, di tengah memberi semangat, memberi dorongan balik”. Slogan ini masih
digunakan dalam pendidikan masyarakat Indonesia, terutama di sekolah-sekolah
Perguruan Tamansiswa.
Dalam kabinet pertama Republik
Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia pasca disebut
sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang pertama. Pada tahun 1957 ia
menerima gelar doktor kehormatan “honoris causa dokter, Dr hc” dari universitas
tertua di Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Untuk jasanya di bidang
pendidikan umum perintis, ia menyatakan Bapa Pendidikan Nasional Indonesia dan
digunakan sebagai hari lahir Hari Pendidikan Nasional Keputusan Presiden no.
305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Dia meninggal di Yogyakarta pada
tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.
Biografi
K. H. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953)
K. H. Abdul Wahid Hasyim
lahir pada 1 Juni 1914. Ia adalah putera kelima dari pasangan K. H. Hasyim
Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti K. Ilyas. Abdul Wahid sangatlah cerdas. Pada
saat kanak-kanak, ia sudah pandai membaca al-Quran. Ia khatam al-Quran ketika
berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, ia juga
belajar di Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng.
Abdul Wahid tidak pernah
mengenyam pendidikan di sekolah pemerintah kolonial. Meskipun begitu, pada usia
15 tahun, ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan
Belanda. Saat berusia 18 tahun, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah
haji dan memperdalam ilmu agama. Di tanah suci, ia belajar selama dua tahun.
Sepulang dari Mekkah, ia banyak menerima tawaran untuk aktif di perhimpunan
atau organisasi pergerakan. Akhirnya, ia memutuskan untuk bergabung bersama
Nahdlatul Ulama. Pada tahun 1938, ia menjadi pengurus NU ranting Cukir. Beberapa
waktu kemudian, ia dipercaya menjadi ketua NU Jombang. Pada tahun 1940, HBNO
mengesahkan Departemen Ma’arif (pendidikan) untuk dipimpin olehnya. Inilah awal
keterlibatan Abdul Wahid Hasyim dalam kepengurusan NU di tingkat pusat (PBNU).
Meskipun dikenal sebagai
pemimpin nasional yang berpikiran maju, K. H. Abdul Wahid Hasyim tetap memiliki
sifat tawadhu. Hal itu, bisa dilihat ketika berbicara dengan sang ayah, K. H.
Hasyim Asy’ari. Ia selalu berbicara dengan bahasa kromo inggil (Jawa halus).
Padahal, ayahnya mengajak bicara dalam bahasa Arab. Salah satu kegemarannya
adalah berkirim surat. Surat-surat itu umumnya berisi pandangan politik, arah
perjuangan, dan cita-cita. Segalanya ditulis dalam bahasa menarik, lancar, dan
dibumbui dengan humor segar.
Ketika Jepang masuk ke
Indonesia, K. H. Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Ketua Majlis Syuro Muslimin
Indonesia (Masyumi). Selain mengadakan pergerakan politik melalui Masyumi, ia
juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Pada tahun 1944, ia
mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Ia juga merintis pembentukan
Hizbullah sebagai sayap “militer” yang membantu perjuangan umat Islam dalam
merebut kemerdekaan. Perhatiannya pada dunia pendidikan sangat besar. Saat
menjadi Menteri Agama pada 1950, ia mengeluarkan peraturan berdirinya Perguruan
Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN (UIN).
Karier Wahid Hasyim dalam
pentas politik nasional terus melejit. Saat Jepang membentuk Badan Penyelidik
Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), ia menjadi salah satu
anggota termuda dari 62 anggota. Ia juga merupakan tokoh termuda dari sembilan
tokoh nasional yang menandatangani Piagam Djakarta, sebuah piagam yang
melahirkan proklamasi dan konstitusi negara.
Dalam kabinet yang dibentuk
Presiden Soekarno pada September 1945, ia ditunjuk menjadi Menteri Negara.
Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada 1946. Ketika KNIP dibentuk, ia menjadi
anggota mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946.
Setelah berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950, ia diangkat menjadi
Menteri Agama.
Pada 18 April, K. H. Wahid
Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Ia ditemani
puteranya, Abdurrahman Wahid (Gusdur). Ketika memasuki Cimindi, mobil yang
ditumpanginya selip. Sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Bagian belakang
mobil membentur truk hingga K. H. Wahid Hasyim terlempar keluar mobil. Sejak
kecelakaan itu, ia pingsan hingga akhirnya wafat pada 19 April 1953 dalam usia
39 tahun. Jenazahnya dimakamkan di PesantrenTebuireng, Jombang.
Pangeran Diponegoro
Nama
Lengkap : Bendara Pangeran Harya Dipanegara
TTL :
Yogyakarta, 11 November 1785.
Meninggal : Makassar, Sulawesi Selatan pada
tanggal 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun.
Beliau
adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya berada di
Makassar. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang
raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta
dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang
garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran
Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo.
Perang Diponegoro berawal ketika pihak
Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu,
beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat
istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.
Sikap Diponegoro yang menentang Belanda
secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran
Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas
di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa
perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat
"perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas
hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta,
Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda
tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus
diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun
dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap
Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830.
Keistimewaan dan Hal-hal yang dapat diteladani
Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang
selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk
mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri.
Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan
keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat
tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo
daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak
kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu
anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun,
sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen
Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.
Banyak hal positif yang kiranya dapat
dipetik dari Beliau. Tentunya para pejabat negara dapat memetik sikap mental
Beliau yang senantiasa tidak haus akan jabatan, sekalipun jabatan itu diberikan
secara halal oleh Ayahandanya.
Prinsip “cukup dengan yang ada
sekarang dan mengoptimalkannya” adalah sebuah prinsip tepat untuk merubah wajah
negara ini. Memang, bukan menjadi persoalan bila seorang pejabat menginginkan
jabatan yang lebih tinggi dari yang ada padanya sekarang. Namun, apakah pantas
menginginkan jabatan lebih tinggi sedangkan tugas dan fungsi pada jabatan yang
sedang dijalankan sekarang belum optimal, bahkan masih jauh dari optimal?
Di samping itu, yang harus dipelajari
secara perlahan dari Pangeran Diponegoro adalah membangun sikap protektif dalam
menjaga kebudayaan dan kebiasaan asli dari daerahnya. Karakteristik Beliau yang
satu ini dipandang cukup mudah untuk dipelajari namun cukup sulit untuk dilakukan.
Mengingat globalisasi telah memasuki berbagai wilayah Indonesia, maka tak heran
bila diperlukan kerja keras ekstra untuk menerapkannya.
Sikap rendah hati, merakyat dan rela
berkorban pun juga tidak kalah pentingnya untuk ditumbuh-kembangkan ke dalam perasaan
dan pemikiran setiap pejabat negara, karena sejatinya pejabat negara adalah
penjelmaan dari unsur tekad, semangat dan keinginan positif masyarakat.















Tidak ada komentar:
Posting Komentar